Rabu, 21 Oktober 2009

Katuranggan Miyabi

Setelah membaca artikel ini. Saya seketika punya keinginan untuk meletakkan artikel ini di blog saya. Saya brpikiran bahwa artikel ini tidak berpihak pada salah satu blok yang pro atau kontra dan yang lebih penting lagi tidak menunjukkan kemunafikan atau terlalu menjelek jelekan salah satu blok. Menurut saya bagaiamanpun juga Miyabi adalah makhluk Tuhan yang lahir dari perut seorang ibu, manusia

Maria Ozawa memang digdaya. Dia tiada, absen, tapi "hadir", nyata. Kehadirannya bahkan lebih gempa daripada berita penanganan akibat prahara di Padang sana. Di halaman depan beberapa media, Ozawa terpampang sembari tertawa. Lanjutan berita bencana Sumatra, tersingkir. Dan begitulah, semua pun menjadi latah, memberi opini, merilis biografi atau filmografi, mendukung atau menolak Miyabi.
Sekian saat, kita lupa, bahwa ada persoalan yang lebih besar daripada Ozawa. Ada Ramlan, yang untuk hidup dan keluar dari puing gempa, dengan bismillah, memotong kakinya. Ada Sari dan Suci, yang selama 48 jam, berdoa dan mengerangkan nama anaknya, sampai pertolongan datang. Ada ribuan korban tanpa nama, puluhan bayi yang mengganti susu dengan mi, ratusan rumah hancur, tangis, jerit, wajah putus asa….
Gempa itu, pekik, jerit pilu, yang hadir sebagai kiamat kecil di Padang sana, nyaris alpa di percakapan facebook kita. Tengok Ozawa, "status" facebook dipenuhi namanya, hadir antara cibiran dan doa. Kelompok aktivis perempuan, tokoh politik, aktris dan pengamat film, akhirnya ikut dalam keramaian percakapan syahwati itu. Bahkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin pun, merasa harus mengomentarinya. "Kami tetap menolak walau dia tidak membuka auratnya. Miyabi itu mukanya muka porno. Sudah sangat transparan," katanya dengan santai, sebagaimana dikutip Kompas Cyber Media, Selasa (14/10).
"…mukanya muka porno." Dan wartawan yang berada di sana pun menderaikan tawa.
Saya juga tertawa. Menertawai, tepatnya. Karena, akhirnya, tersingkaplah semua, kontroversi itu datang bukan dari sebuah perdebatan yang ada dasarnya. Muka yang porno itu, benarkah milik Miyabi? Tidakkah "tafsir" kepornoan itu lahir setelah melihat profesinya? Artinya, di wajah Miyabi diletakkan sebuah imaji. Wajah itu dibaca bukan sebagai selembar kertas, melainkan sebrangkas dokumen. Jika busana tak dapat menutup aurat dan syahwat, untuk apa perintah jilbab?
Di sinilah kita menemukan bahwa "muka porno" itu, tidak dipandang dalam laku katuranggan. Ilmu titen itu, kita tahu, lahir dari "kekosongan" masa silam objek. Dia adalah pencocokan dari satu kasus ke kasus lainnya. Dari satu eksemplar wajah ke satu eksemplar wajah lainnya. "Jika wajahnya seperti si anu, memiliki kesamaan, maka tingkahnya, lakunya, mungkin tak jauh berbeda." Katuranggan dengan demikian adalah menyamakan sesuatu yang mirip dari sosok yang berbeda. Wajah si A yang mirip dengan si B.
Pendapat KH Ma’ruf, kita tahu, tak berada di wilayah itu. Miyabi dia "katuranggankan", dia persamakan, di dalam dirinya sendiri.
Lihatlah Miyabi dalam busana kesehariannya, ketika dia memakai busana tertutup. Wajah itu, muka itu, tak berperbawa porno. Lihatlah Miyabi ketika tanpa busana, dalam adegan film mesumnya, wajah itu, bagi saya, tetap tidak bermuka porno. Miyabi, dalam keadaan apa pun, wajahnya lebih sering minta dikasihani, disayangi, di-iba-i, daripada dinafsui.
Karena memang, persoalan Miyabi bukan pada wajah.
Karena kepornoan tak akan pernah dapat dicerminkan hanya dari wajah seseorang. Kepornoan itu, Amin, adalah produksi pikiran.
Meski Serat Centhini, terutama dalam pupuh Balabak, juga dalam Kitab Primbon Lumanakim Adammakna memuat katuranggan wajah yang "porno", tapi ciri itu nyaris tak dimiliki Miyabi. Miyabi tentu tidak berpandangan nguwung, bertubuh agak melengkung, roman muka galak, dan rambutnya panjang dengan sinom menggumpal. Sekali lagi, persoalan Miyabi bukan pada wajah, yang bahkan, menurut Otto Sukatno CR dalam Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa, "sesuatu yang rumit karena seks tidak bisa dinilai hanya dari segi penampilan lahiriahnya semata."
Sekali lagi, kontroversi dan keramaian Miyabi di sini, bukan pada wajahnya, atau pada profesinya. Karena sesungguhnya, dalam tiap percakapan itu, Miyabi absen, tak hadir. Yang ada, dan nyata, sebenarnya adalah percakapan syahwat kita, kegembiraan kita memperbincangkan hasrat, keliaran fantasi. Miyabi atau Ozawa hanya media, objek, barangkali juga pintu, saluran dari nafsi kita.
Memperbincangkannya, kita mendapatkan surga, sembari melempar dosa dan neraka pada wajahnya.

Ditulis oleh Esai Aulia A Muhammad
dalam Suara Merdeka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar